Bismillahirahmanirahim
Dalam sunyi yang mengulit selumbar hati yang memilih untuk menyendiri bersama sepi
Selintas memori merentasi akal memecah kesunyian ku yang masih terkedu dengan kenyataan
Terpancar kembali imbasan memori tentang Dia si pemilik wajah sugul seorang lelaki sejati yang biasanya duduk seolah-olah bertasbih di kerusi malas-Nya
Waktu itu diamnya seakan terusik oleh tingkah kami namun dia hanya memerhati dan
cuba memahami bait-bait bicara walaupun kadang bunyinya berdengung bingit di telinga menikam terus ke sanubari yang cuba memahami dan sabar dengan tingkah kami
Dialah tuhan kami.....
Yang Maha pemurah lagi Maha Pengasih, Dia sangat memahami......
Dia diam dan............ terus mendengar dengan teliti pergolakan diantara kami
Aku memandangnya sekilas kepada-Nya, kemudian menyambung semula kata-kata ku, membidas bila perlu untuk membela diriku....
Dialah tuhan kami.....
Yang Maha pemurah lagi Maha Pengasih, Dia sangat memahami......
Dia diam dan............ terus mendengar dengan teliti pergolakan diantara kami
Aku memandangnya sekilas kepada-Nya, kemudian menyambung semula kata-kata ku, membidas bila perlu untuk membela diriku....
Dikala malam yang mulai dewasa berteman titik embun tua serta kedinginan yang menyelimuti malam waktu itu
Tiada kerdipan lembut berbaur kasih seperti al-kisah daripada kitab lama terpancar di raut wajah yang sugul
Yang terus diam seribu bahasa hanyut bersama kedinginan malam yang tiada bersuara
”Apakah yang bersarang di kotak fikiran-Mu Ya Rabbana?”
Jangankan aku tidak dia, juga dia, atau dia yang sudah mulai leka dengan bicara yang ke-anak-anakan, masing-masing leka bersama gelora sengketa yang membawa luka dan duka yang sudah dewasa dan matang dengan kata jiwa
Seakan tiada yang melihat ke-anak mata-Nya yang terus duduk, diam dan bersahaja mendengar tiap butir-butir kata dan aksi-aksi si hamba
pada masa yang lain anak mata dan telinga ku cuba mengerling sekilas ke arah-Nya walau seketika yang turut sama tewas dengan hasutan hati yang enggan tewas kepada perdebatan kami waktu itu
Seolah-olah tidak malu bila diadili oleh Allah s.w.t di situ....
Seolah-olah tidak malu bila diadili oleh Allah s.w.t di situ....
Ampunilah kami Ya Rabbi dan jauhkanlah kami dari azab api neraka yang merah menyala-nyala semoga kami terhindar dari azab sengsara
Ampunilah kami Ya Rabbana,
Baru terlintas di benak ku kini yang cuba meneliti kembali peristiwa itu dan cuba mengimbas kembali diam Mu yang penuh bersahaja, akal akhirnya malu dan mahu menginsafi tiap perkataan yang melampau untuk bahasa mereka yang mengaku si waras dan berakal, sedang kami berdalih mengaku kami hamba-MU yang beriman. Ampunilah kami Ya Allah,
”Adakah kami punca Engkau gundah-gulana, terkedu dan diam seribu bahasa?
Apakah yang bermain di akal atau minda Mu Ya Rabbana?”
19.june.2017
Katakanlah Endang ;- “Barang siapa yang mampu mempermainkan hati dan perasaanku, maka aku janjikan syurga buatnya”
17 june 2017
Bingkisan si Perindu Sepi
No comments:
Post a Comment